MENUJU SIKAP PEDULI AUTIS
Jumlah penyandang autis setiap tahun bertambah dengan pesat
tapi sayang hal tersebut tidak di
iringgi oleh meningkatnya kesadaraan orang tua ,masyarakat dan pemerintah .Hampir setiap minggu Sekolah Khusus Autis(SKA) didatangi orang tua
yang inggin anaknya mendapatkan pendidika dan terapi ,tapi sayang keterbatasan
tempat dan tenaga pengajar menyebabkan anak –anak tersebut harus menunggu
Siapa saja dapat menjadi penyandang autisme tanpa memandang
status ekonomi dan sosial ,suku bangsa,afilitas politik dan agama.Autime
bersifat pervasive sehingga penangganya harus dilakukan secara lintas keilmuwan dan kontinyu.
Semua orang tua pasti ingin anaknya lahir dan hidup secara
normal dan tidak ada seseorangpun yang menginginkan anaknya lahir autis.Karena harapan tersebut ,para orang tua
tidak pernah mempersiapkan diri jika anaknya lahir tidak normal.Ketika anak nya
lahir dan tumbuh tidak seperti anak anak sebayanya ,para orang tua menggangap
bahwa anaknya hanya sedikit mengalami gangguan yang akan teratasi dengan
sendirinya seiring betambahnya usia mereka.
Ketika harapan untuk melihat anaknya hidup”normal seperti
saudara dan kawan-kawanya tidak kunjung tiba,barulah para orang tua sadar bahwa
ada sesuatu yang “lain”telah terjadi pada anaknya.Sejak itu orang tua baru mencari pengobatan untuk anakya
Seharusnya orang tua sejak awal telah menyiapkan kelahiran
anaknya.Dalam artian orang tua setiap orang tua mempunyai cukup informasi
tentang anak sehingga ketika anak menunjukan gejala yng kurang lazim para orang
tua segera memeriksakan anaknya.Minimnya pengetahuan orang tua telah
menyebabkan kurang tepat dalam mencarikan solusi terhadap kelainan anak .
Sikap panik dan penolakan dalam menyikapii diagnosa dokter
tentang anaknya yang autis merupakan salah sa lah satu penyebab terhambatnya
anak mendapatkan penagganan.Dalam kondisi seperti ini ,para dokter ,guru dan
terapis harus memberikan pemahaman yang benr kepada orang tua yang mempunyai
anak autis me serta langkah apa sajkah yang harus secepatnya dilakukan oleh
orang tua
Sampai sekarang ,sebagian besar masyarakat masih
menganggap bahwa autisme adalah penyakit sehingga muncul ungkapan “anak-anak
penderita autis “.Ungkapan ini biasanya di perkuat oleh pertanyaan,bisakah
autis sembuh.Jika autis dianggap sebagai penyakit ,tentu saja autisme bisa
sembuh.Namun karena autis bukan penyakit maka pertanyaan apakah autis bisa
sembuuh menjadi tidak relevan.Anak autis ibarat anak yang lahir tanpa
tangan,apakah ketiadaan tangan si anak merupakan penyakit tentu saja bukan.
Anaka autis mempunyai gangguan dalam hak perkembangan yang berpengaruh teradap kemampuan bina
diri,berkomunikasi dan bersosialisasi,maka penaganannya haruslah dilakukan
secara terstruktur,terpola,terprogam,konsisten dan kontinyu.Penanganan anak
autis tidak dapat dilakukan dengan coba-coba tetapi melalui sistem yang
terencana maka di perlukan hasil
diagnosa dokter dan observasi guru dan terapis.
DI POS KAN OLEH:WHANNIK.R
Tanggal :18 november 2012
Pukul :13:00
SUMBER:Widihastuti
setiati.(2007).Pola Pendidikan Anak Autis.Yogyakarta:Fajar Nugraha Autism
Center Fnac Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar