Pages

Minggu, 18 November 2012

MENUJU SIKAP PEDULI AUTIS



MENUJU SIKAP PEDULI AUTIS
          Jumlah penyandang autis setiap tahun bertambah dengan pesat tapi sayang hal tersebut  tidak di iringgi oleh meningkatnya kesadaraan orang tua ,masyarakat  dan pemerintah .Hampir setiap minggu  Sekolah Khusus Autis(SKA) didatangi orang tua yang inggin anaknya mendapatkan pendidika dan terapi ,tapi sayang keterbatasan tempat dan tenaga pengajar menyebabkan anak –anak tersebut harus menunggu
          Siapa saja dapat menjadi penyandang autisme tanpa memandang status ekonomi dan sosial ,suku bangsa,afilitas politik dan agama.Autime bersifat pervasive sehingga penangganya harus dilakukan  secara lintas keilmuwan dan kontinyu.
          Semua orang tua pasti ingin anaknya lahir dan hidup secara normal dan tidak ada seseorangpun yang menginginkan anaknya lahir  autis.Karena harapan tersebut ,para orang tua tidak pernah mempersiapkan diri jika anaknya lahir tidak normal.Ketika anak nya lahir dan tumbuh tidak seperti anak anak sebayanya ,para orang tua menggangap bahwa anaknya hanya sedikit mengalami gangguan yang akan teratasi dengan sendirinya seiring betambahnya usia mereka.
          Ketika harapan untuk melihat anaknya hidup”normal seperti saudara dan kawan-kawanya tidak kunjung tiba,barulah para orang tua sadar bahwa ada sesuatu yang “lain”telah terjadi pada anaknya.Sejak itu orang tua  baru mencari pengobatan untuk anakya
          Seharusnya orang tua sejak awal telah menyiapkan kelahiran anaknya.Dalam artian orang tua setiap orang tua mempunyai cukup informasi tentang anak sehingga ketika anak menunjukan gejala yng kurang lazim para orang tua segera memeriksakan anaknya.Minimnya pengetahuan orang tua telah menyebabkan kurang tepat dalam mencarikan solusi terhadap kelainan anak .
          Sikap panik dan penolakan dalam menyikapii diagnosa dokter tentang anaknya yang autis merupakan salah sa lah satu penyebab terhambatnya anak mendapatkan penagganan.Dalam kondisi seperti ini ,para dokter ,guru dan terapis harus memberikan pemahaman yang benr kepada orang tua yang mempunyai anak autis me serta langkah apa sajkah yang harus secepatnya dilakukan oleh orang tua
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgb274GAYjjtRG5qOVJsNLjyD8YuGl8wdnew5YiL-lDTaQ-VlJFuBKmfMz_j8yXyN7TvHPwjaziukksEL_C5NN97djnluMLZzBreiBNDbZcsqh2n_E-_g7fhMyBDdJAX14pCGtUJ-fkAg/s320/anak+autis.jpg                   Sampai sekarang ,sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa autisme adalah penyakit sehingga muncul ungkapan “anak-anak penderita autis “.Ungkapan ini biasanya di perkuat oleh pertanyaan,bisakah autis sembuh.Jika autis dianggap sebagai penyakit ,tentu saja autisme bisa sembuh.Namun karena autis bukan penyakit maka pertanyaan apakah autis bisa sembuuh menjadi tidak relevan.Anak autis ibarat anak yang lahir tanpa tangan,apakah ketiadaan tangan si anak merupakan penyakit tentu saja bukan.
          Anaka autis mempunyai gangguan dalam hak perkembangan  yang berpengaruh teradap kemampuan bina diri,berkomunikasi dan bersosialisasi,maka penaganannya haruslah dilakukan secara terstruktur,terpola,terprogam,konsisten dan kontinyu.Penanganan anak autis tidak dapat dilakukan dengan coba-coba tetapi melalui sistem yang terencana  maka di perlukan hasil diagnosa dokter dan observasi guru dan terapis.


 
DI POS KAN OLEH:WHANNIK.R
          Tanggal       :18 november 2012
          Pukul              :13:00
SUMBER:Widihastuti setiati.(2007).Pola Pendidikan Anak Autis.Yogyakarta:Fajar Nugraha Autism Center Fnac Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar