GARIS BESAR
TERAPI LUMBA-LUMBA UNTUK ANAK AUTIS
Autisme adalah gangguan
perkembangan yang kompleks, disebabkan adanya kerusakan pada otak.Anak mengalami gangguan seputar
perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan bersosialisasi, dan lain-lain.Anak
dengan gangguan autis dikenal sebagai pribadi yang tak mampu berkomunikasi
dengan orang terdekat sekalipun. Anak autis juga tak mampu mengekspresikan
perasaan dan keinginannya, seringkali tertawa atau menangis sendiri.
Terapi
lumba-lumba dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Dolphin Assisted Therapy
(DAT) yaitu satu di antara terapi yang menggunakan bantuan hewan,memberikan
efek perbaikan terhadap pikiran dan fungsi tubuh, serta kualitas hidup. Lumba-lumba
memiliki sebuah sistem yang digunakan untuk berkomunikasi dan menerima rangsang yang dinamakan sistem sonar. Sonar
inilah yang disebut-sebut memiliki kemampuan penyembuhan untuk anak penderita
autis, meningkatkan kemampuan wicara dan motorik anak.
Pancaran ini
sangat potensial dalam proses penyembuhan. Secara fisiologik, ultrasonik ini
dapat mempengaruhi denyut jantung, pernafasan, kontraksi otot, memori dan
fungsi pertahanan tubuh.
Proses terapinya dengan cara anak berinteraksi langsung didalam
kolam renang. Dengan dibantu instruktur lumba-lumba, anak akan diajak untuk
berinteraksi, menyentuh, memberi makan, dan bermain-main dengan hewan pintar
ini. Banyak anak-anak yang terlihat senang bermain dan berinteraksi dengan
mereka.
Para ilmuwan juga telah menemukan beberapa hipotesis
bahwa menyatu dan bermain dengan lumba-lumba akan membangkitkan respon
emosional yang mendalam dan memicu pelepasan perasaan dan emosi yang mendalam.
para peneliti meyakini, anak-anak lebih responsif terhadap terapi karena mereka
bermain di lingkungan yang menyenangkan.
Dari sisi
lain, proses pemulihan sama dengan terapi suara yang di haslkan lumba-lumba. Ritme dan
suara vibrasi membantu membangkitkan perubahan mood.
TELAAH KRITIS
v
Menurut sumber lain
Di tubuh
lumba-lumba terkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan
sensorik pendeerita autis. karena, lumba-lumba mempunyai gelombang sonar yang dapat
merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang
tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk
keseimbangan antara otak kanan dan kiri. “Suara lumba-lumba membuat rileks dan perasaan
menjadi lebih tenang. Sentuhannya merangsang saraf sensoris, pendengaran,
penglihatan, dan konsentrasi anak. Setelah bermain dengan lumba-lumba, anak
menjadi lebih konsentrasi, sehingga memacu semangat belajar.
v Menurut
pendapat saya:
Menurut saya terapi lumba-lumba bagi anak autis sangatlah
penting. Karena dengan terapi
lumba-lumba tersebut, anak akan mampu berinteraksi dan mengkoreksi kelainan dan keterbatasan anak berkebutuhan
tersebut. Yang
biasanya anak autis memiliki rentang perhatian hanya 5 menit atau kurang bisa
menjadi stu jam.Berenang dan bersahabat dengan lumba-lumba dapat mengurangi
depresi.
Dan dengan adanya terapi lumba-lumba ini, anak autis
dapat mengembangkan potensi yang ada
pada dirinya. kemampuan untuk
berinteraksi dan meluapka keinginanya.Bahkan kemampuan merekapun dapat dikembangkan menjadi suatu
prestasi yang dapat membanggakan.
Yang biasanya anak autis memiliki
rentang perhatian hanya 5 menit atau kurang bisa menjadi stu jam.Berenang dan
bersahabat dengan lumba-lumba dapat mengurangi depresi.
v Menurut fakta lapangan
Sebuah
penelitian menyebutkan berenang dengan lumba-lumba bisa membantu meredakan
depresi. Tim peneliti dari Universitas Leicester meneliti sekitar 15 orang
penderita depresi yang dibagi dalam dua kelompok. Grup pertama berenang bersama
lumba-lumba sementara yang lain berenang di area yang sama tanpa ditemani
lumba-lumba dalam waktu tertentu secara rutin. Kepala penelitian Dr Iain Ryrie
mengatakan para peserta diminta untuk berhenti mengkonsumsi obat anti depresi
dan menjalani terapi psikoterapi sekitar empat minggu sebelum menjalani tes
ini. Mereka menemukan gejala-gejala dan keluhan yang selama ini dialami para
depresan (penderita depresi) mengalami kemajuan pesat dibanding pasien lain
yang tidak berenang bersama lumba-lumba.
Penelitian
yang tercantum dalam British Medical Journal ini menyebutkan bahwa berdekatan
dengan binatang terutama mamalia memiliki kemampuan mengubah lingkungan sosial
kita. Separuh dari peserta diminta berenang dan menyelam bersama lumba-lumba
selama satu jam setiap hari selama periode dua minggu, sementara peserta lain
diminta melakukan aktivitas yang sama tanpa ditemani lumba-lumba. Setelah dua
minggu berselang, grup yang berenang dengan lumba-lumba mengalami perbaikan
mental.
\
Menurut
Dr Michael T. Hyson, pakar terapi lumba-lumba dan autisme, 1973 adalah awal
dari lahirnya terapi ini, ketika sekelompok anak-anak autis dibawa ke
Seaquarium Miami untuk bertemu lumba-lumba. Anak-anak autis yang biasanya
memiliki rentang perhatian hanya lima menit atau kurang, bisa bermain dan
mengembangkan ikatan dengan lumba-lumba selama lebih dari satu jam. Hasil yang menggembirakan
ini menjadi awal lumba-lumba untuk program terapi dan penelitian di
Florida
SIMPULAN
1.
Bahwa menyatu dan bermain dengan
lumba-lumba akan membangkitkan respon emosional yang mendalam dan memicu
pelepasan perasaan dan emosi yang mendalam
2. fungsi
motorik halus dan kasar anak-anak, proses belajar, kemampuan kognitif,
konsentrasi dan komunikasi, serta kemampuannya untuk berinteraksi dengan orang
lain menjadi lebih baik.
3.
lumba-lumba dinyatakan bisa
merasakan area yang tidak berfungsi penuh dan trauma fisik di tubuh manusia dan
mereka memotivasi anak-anak untuk menggunakan area-area ini
4.
Sistem sonar yang
di miliki oleh lumba lumba mampu menyembuhkan anak autis untuk
meningkatkan wicara dan motorik anak.
5.
Anak yang biasanya
hanya memiliki rentang perhatian lima menit atau kurang sekarang dia mampu
memperhatikan kira-kira satu jam
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Sebuah
penelitian menyebutkan berenang dengan lumba-lumba bisa membantu meredakan
depresi. Tim peneliti dari Universitas Leicester meneliti sekitar 15 orang
penderita depresi yang dibagi dalam dua kelompok. Grup pertama berenang bersama
lumba-lumba sementara yang lain berenang di area yang sama tanpa ditemani
lumba-lumba dalam waktu tertentu secara rutin. Kepala penelitian Dr Iain Ryrie
mengatakan para peserta diminta untuk berhenti mengkonsumsi obat anti depresi
dan menjalani terapi psikoterapi sekitar empat minggu sebelum menjalani tes
ini. Mereka menemukan gejala-gejala dan keluhan yang selama ini dialami para
depresan (penderita depresi) mengalami kemajuan pesat dibanding pasien lain
yang tidak berenang bersama lumba-lumba.
Penelitian
yang tercantum dalam British Medical Journal ini menyebutkan bahwa berdekatan
dengan binatang terutama mamalia memiliki kemampuan mengubah lingkungan sosial
kita. Separuh dari peserta diminta berenang dan menyelam bersama lumba-lumba
selama satu jam setiap hari selama periode dua minggu, sementara peserta lain
diminta melakukan aktivitas yang sama tanpa ditemani lumba-lumba. Setelah dua
minggu berselang, grup yang berenang dengan lumba-lumba mengalami perbaikan
mental.
Professor
Michael Reveley, salah seorang periset, menyebutkan bahwa nilai estetis dan
emosi yang terjadi saat peserta (pasien depresi) berinteraksi dengan
lumba-lumba berperan sebagai salah satu pereda depresi. Suara ultrasound yang
merupakan bagian dari echolocation system (sistem syaraf sensor yang dimiliki
mamalia tertentu, misalnya lumba-lumba dan kelelawar untuk mengenali objek
disekitar mereka) memiliki efek yang cukup besar pada penderita depresi.
Dari
penelitian yang mereka lakukan di Honduras, tim Leicester yakin bahwa
menggunakan hewan tertentu dengan cara ini sangat efektif meredakan dan
mengobati depresi ataupun gangguan psychiatrik lainnya. "Lumba-lumba
adalah mamalia yang cerdas, memiliki kecakapan berinteraksi yang lebih kompleks
dibanding mamalia lainnya, bahkan untuk berinteraksi dengan manusia. Beberapa
orang yang mengalami depresi sulit berinteraksi dengan sesama dan sulit sekali
merespon positif lingkungannya. Namun perlu diingat kita adalah bagian dari
alam, bergaul dengan mahkluk lain memberi efek positif bagi kita." Ujar
Reveley
Sebelumnya
terapi lumba-lumba pernah digunakan untuk membantu anak-anak yang mengalami
gangguan tertentu. Dr Iain Ryrie, kepala Mental Health Foundation, mengatakan
manusia dan lumba-lumba saling berbagi sistem limbic otak yang memegang peranan
penting mengatur proses emosi dan psikologis tubuh. "Kontak emosi adalah
kebutuhan biologis yang dibutuhkan mamalia, merangsang sistem limbic mereka,
meyakinkan respon positif untuk menyusui serta memberikan perlakukan yang
lembut. Sebagai manusia kita memiliki hubungan psikologis untuk berhubungan dan
bersentuhan dengan sesama, sesuatu yang membedakan kita dari reptil, yang tidak
memiliki sistem komunikasi limbic dan tak bisa menyusui. Jadi sangat mungkin
manusia 'bercinta' dengan berbagai jenis mamalia yang berbeda karena mereka
memiliki kesamaan sistem biologis dan sosial," kata Dr Iain Ryrie.
Dr
Ryrie menyebutkan dari penelitian yang telah dilakukan selama ini menunjukkan
bahwa merawat binantang peliharaan merupakan salah satu cara meredakan depresi.
Teknik ini juga manjur untuk mengatasi bocah yang hiperaktif dan oramg usia
lanjut yang menderita dementia (gangguan pada sistem syaraf, yang menyebabkan
kelambanan merespon dan berkonsentrasi, biasanya disertai dengan gangguan emosi
dan perubahan karakter).
"Binatang,
terutama mamalia, bisa merubah lingkup sosial dinamis kita terutama untuk
orang-orang yang mengalami depresi. Berenang dan bersahabat dengan lumba-lumba
dalam aktivitas kelompok sangat bisa mengurangi depresi," tambah Ryrie
yang masih akan mengembangkan penelitian ini untuk mamalia yang bisa dipelihara
di rumah.
Di
Jakarta, tepatnya di The Lost Kingdom (dulu Gelanggang Samudra Ancol) di ruang
Dolphin Terapi, lumba-lumba dijadikan terapi untuk membantu penyembuhan
penderita autis. Menurut GM Doplhin Terapi Klinik, dr. Endang Sumaryati, terapi
lumba-lumba merupakan salah satu penyembuhan autis.Metode tersebut empat kali
lebih cepat ketimbang dengan terapi konvensional. "Di tubuh lumba-lumba
terkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik
pendeerita autis. Sebab, lumba-lumba mempunyai gelombang sonar yang dapat
merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang
tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk
keseimbangan antara otak kanan dan kiri," ujar dr. Endang yang spesialis
fisioterapi ini.
Di
samping itu, lanjutnya, dapat juga meningkatkan neurotransmitter. Dengan sifat
dasar yang memiliki kasih sayang dan suka menolong itu. Menurut Endang,
lumba-lumba sangat membantu dalam proses terapi. "Pasien akan tertarik dan
lebih rileks untuk berinteraksi sehingga mempengaruhi peningkatan respon
kognitif, fisik dan afektif."
Lumba-lumba
adalah salah satu hewan yang memiliki kecerdasan tinggi dan sangat bersahabat
dengan manusia. Kecerdasan ini ditandai dengan kemapuan mereka untuk mengenali
diri mereka sendiri dalam cermin, sadar penuh dan memiliki bahasa yang kompleks
dibandingkan dengan hewan lain. Dipercaya bahwa lumba-lumba memiliki kemampuan
untuk mengatasi berbagai macam masalah neurologis seperti depresi, sindrom
down, autis dan berbagai masalah psikologis lainnya.
Terapi dengan menggunakan hewan
peliharaan pada anak autis dapat menurunkan tekanan darah, meringankan
insomnia, dan sakit kepala. Saat ini terapi lumba-lumba untuk anak autis dapat
di temukan di Bali dan pulau Bidadari. Lumba-lumba yang digunakan dalam terapi
ini adalah lumba-lumba yang sudah jinak dan terlatih serta bisa bermain dan
berinteraksi dengan anak.
Mamalia laut ini memiliki
kemapuan sonar, yakni mendeteksi benda-benda disekitarnya dengan mengirimkan
suara berfrekuansi tinggi melalui moncongnya kemudian diterima kembali dan
diterjemahkan untuk mengenali lingkungan sekitar, mirip radar. Selain sebagai
radar, suara berfrekwensi tinggi ini juga digunakan untuk berkomunikasi dengan
lumba-lumba lainnya. Sonar inilah yang disebut-sebut memiliki kemampuan
penyembuhan untuk anak penderita autis, meningkatkan kemampuan wicara dan
motorik anak.
Proses terapinya dengan cara
anak berinteraksi langsung didalam kolam renang. Dengan dibantu instruktur
lumba-lumba, anak akan diajak untuk berinteraksi, menyentuh, memberi makan, dan
bermain-main dengan hewan pintar ini. Banyak anak-anak yang terlihat senang
bermain dan berinteraksi dengan mereka.
Menurut Dr Michael T. Hyson,
pakar terapi lumba-lumba dan autisme, 1973 adalah awal dari lahirnya terapi
ini, ketika sekelompok anak-anak autis dibawa ke Seaquarium Miami untuk bertemu
lumba-lumba. Anak-anak autis yang biasanya memiliki rentang perhatian hanya
lima menit atau kurang, bisa bermain dan mengembangkan ikatan dengan
lumba-lumba selama lebih dari satu jam. Hasil yang menggembirakan ini
menjadi awal lumba-lumba untuk program terapi dan penelitian di Florida.
Meskipun terapi ini populer dan
semakin banyak dilakukan oleh para orang tua tetapi masih belum ada bukti
klinis yang menyatakan bahwa terapi ini dapat meringankan gejala autis, tetapi
terapi lumba-lumba untuk anak autis ini masih
memberikan manfaat kesehatan sebagai “terapi hewan peliharaan” yang menurunkan
tekanan darah, meringankan insomnia, dan sakit kepala seperti disebutkan
diatas.
Perkembangan
otak
Area tertentu di otak, termasuk
serebal korteks dan cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi,
pergerakan dan pengaturan mood, berkaitan dengan autisme. Ketidakseimbangan
neurotransmiter, seperti dopamin dan serotonin, di otak juga dihubungkan dengan
autisme.
Lumba-lumba memiliki sebuah sistem
yang digunakan untuk berkomunikasi dan menerima rangsang yang dinamakan sistem sonar, sistem ini
dapat menghindari benda-benda yang ada di depan lumba-lumba, sehingga terhindar
dari benturan. Teknologi ini kemudian diterapkan dalam pembuatan radar kapal selam.
Lumba-lumba adalah binatang menyusui. Mereka hidup di laut dan sungai di
seluruh dunia. Lumba-lumba adalah kerebat paus dan pesut. Ada lebih
dari 40 jenis lumba-lumba.Ultrasonik adalah suara atau getaran dengan frekuensi yang
terlalu tinggi untuk bisa didengar oleh telinga manusia, yaitu
kira-kira di atas 20 kiloHertz. Hanya
beberapa hewan, seperti lumba-lumba menggunakannya untuk komunikasi, sedangkan
kelelawar menggunakan gelombang ultrasonik untuk navigasi. Dalam hal ini,
gelombang ultrasonik merupakan gelombang ultra (di atas) frekuensi gelombang suara (sonik).Gelombang
ultrasonik dapat merambat dalam medium padat, cair dan gas. Reflektivitas dari
gelombang ultrasonik ini di permukaan cairan hampir sama dengan permukaan
padat, tapi pada tekstil dan busa,
maka jenis gelombang ini akan diserap.
Terapi
lumba-lumba dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Dolphin Assisted Therapy
(DAT) yaitu satu di antara terapi yang menggunakan bantuan hewan, dan
dilaporkan memberikan efek perbaikan terhadap pikiran dan fungsi tubuh,
serta kualitas hidup. Terapi ini bukan untuk menyembuhkan penyakit dan bukanlah
satu cara yang memberikan suatu keajaiban, tetapi dapat menjadi alternatif cara
atau variasi yang bisa diperkenalkan kepada anak penyandang autis. Dengan cara
ini kita dapat memberikan pengalaman baru yang cukup menenangkan dan
menyenangkan.
Menurut
laporan terakhir dari NPO Aspe Elde di Jepang, terapi lumba-lumba mempunyai
pengaruh yang sangat baik terhadap anak penyandang autis. Tidak hanya
berdasarkan laporan di atas, tetapi ternyata laporan dari berbagai negara di
dunia juga memberikan dampak positif yang sama terhadap anak penyandang autis.
Sebagi contoh, hasil pengamatan Carla Henco dan Tsuzuki Keiko di Australia
(2006) yang saat ini keduanya merupakan terapis dengan bantuan lumba-lumba di
negaranya dan satu tempat di Lovina Bali. Mereka menyaksikan sendiri bahwa
fungsi motorik halus dan kasar anak-anak, proses belajar, kemampuan kognitif,
konsentrasi dan komunikasi, serta kemampuannya untuk berinteraksi dengan orang
lain menjadi lebih baik. Dalam empat tahun terakhir, mereka juga menerapkan
terapi lumba-lumba ini untuk orang dewasa yang menderita depresi, fobia,
gangguan tidur, stroke, dan lain-lainya. Hasilnya juga bagus, penderita menjadi
lebih relaks, tidak takut dan lebih seimbang.
Secara ringkas menurut para ahli dikatakan bahawa
lumba-lumba menggunakan sistem sonar yang sangat sofistikated yang dipancarkan
dalam bentuk vibrasi. Para ahli berkeyakinan bahwa lumba-lumba dapat melihat
keadaan dalam tubuh kita mirip seperti penampilan sonogram pada wanita hamil.
Pancaran ultrasonik yang dikeluarkan empat kali lebih kuat efeknya daripada
terapi yang digunakan di berbagai rumah sakit. Pancaran ini sangat potensial
dalam proses penyembuhan. Secara fisiologik, ultrasonik ini dapat mempengaruhi
denyut jantung, pernafasan, kontraksi otot, memori dan fungsi pertahanan tubuh.
Suara
Dari sisi lain, proses pemulihan sama dengan terapi suara. Ritme dan suara vibrasi membantu membangkitkan perubahan mood. Menurut Dr Cole, ketua Aquathought Foundation, berenang dengan lumba-lumba bisa menciptakan perubahan sel-sel psikologi dan jaringan dalam tubuh.
Lumba-lumba, terang Cole, mempunyai sonar alami. Mereka akan memancarkan gelombang ultrasound untuk menentukan lokasi benda dan untuk berkomunikasi. Bunyi yang dikeluarkan lumba-lumba, terang dia lagi, sangat kuat sehingga bisa menyebabkan pembentukan lubang di struktur molekul-molekul cairan dan jaringan lunak.
Cole meyakini bahwa frekuensi sinyal lumba-lumba berpengaruh kuat terhadap otak manusia dengan cara memodifikasi aktivitas gelombang otak. Hasil tes yang dilakukan pada manusia menunjukkan kalau bunyi ini bisa mengubah frekuensi otak manusia dari beta menjadi alpha.
Bunyi ini membuat kedua belahan otak lebih sinkron sehingga komunikasi antara otak kanan dan kiri menjadi jauh lebih baik. Selain itu, terapi lumba-lumba ini juga dinyatakan bisa membuat perubahan emosi yang kuat, menenangkan anak-anak, meningkatkan kemampuan komunikasi dan konsentrasi, memperbaiki fungsi motorik dan koordinasi, membuat kontak mata, senyum, tawa, dan daya sentuh anak semakin baik, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh. (OL-08)
Dari sisi lain, proses pemulihan sama dengan terapi suara. Ritme dan suara vibrasi membantu membangkitkan perubahan mood. Menurut Dr Cole, ketua Aquathought Foundation, berenang dengan lumba-lumba bisa menciptakan perubahan sel-sel psikologi dan jaringan dalam tubuh.
Lumba-lumba, terang Cole, mempunyai sonar alami. Mereka akan memancarkan gelombang ultrasound untuk menentukan lokasi benda dan untuk berkomunikasi. Bunyi yang dikeluarkan lumba-lumba, terang dia lagi, sangat kuat sehingga bisa menyebabkan pembentukan lubang di struktur molekul-molekul cairan dan jaringan lunak.
Cole meyakini bahwa frekuensi sinyal lumba-lumba berpengaruh kuat terhadap otak manusia dengan cara memodifikasi aktivitas gelombang otak. Hasil tes yang dilakukan pada manusia menunjukkan kalau bunyi ini bisa mengubah frekuensi otak manusia dari beta menjadi alpha.
Bunyi ini membuat kedua belahan otak lebih sinkron sehingga komunikasi antara otak kanan dan kiri menjadi jauh lebih baik. Selain itu, terapi lumba-lumba ini juga dinyatakan bisa membuat perubahan emosi yang kuat, menenangkan anak-anak, meningkatkan kemampuan komunikasi dan konsentrasi, memperbaiki fungsi motorik dan koordinasi, membuat kontak mata, senyum, tawa, dan daya sentuh anak semakin baik, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh. (OL-08)
Demikianlah
sekelumit uraian tentang kegiatan terapi lumba-lumba yang pernah kami lakukan
sebagai satu di antara berbagai cara demi memaksimalkan potensi anak penyandang
autis agar mampu menolong dirinya sendiri di masa datang (Disusun oleh Upik
Kesumawati Hadi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB).Terapi ini bertujuan untuk
meningkatkan aktivitas sensori anak. Dalam program yang berlangsung di kolam
renang dengan lumba-lumba ini, terapis akan membantu anak-anak autisme.
Anak-anak akan diminta untuk berenang, menyentuh, memberi makan atau
mengelus-elus hewan tersebut. Selanjutnya terapis akan bekerja dan membantu
pada area tertentu seperti berbicara, bertingkah dan keahlian motorik. Terapis
akan mendisain program sesuai dengan kebutuhan anak.
TIGA TAHUN lalu, Helen (28) sedih mendapati M. Arief Sofyan, anaknya yang
ketika itu berusia 2 tahun, selalu tidak merespon bila dipanggil. Arief selalu
menyendiri, tidak mau berbicara, padahal di rumah tidak mau diam alias
hiperaktif.
Dari analisis pengobatan medis,
diketahui Arief menyandang gangguan autisme. Helen tentu harus memberikan
perhatian khusus pada buah hatinya itu. Ibu tiga anak ini memasukkan Arief di
sekolah untuk anak dengan kebutuhan khusus, memberikan asupan yang tepat, juga
menghadiri berbagai seminar tentang autisme guna menambah pengetahuan dalam
mendidik Arief.
Beruntung, lewat Endang
Sumaryati, dari Kompartemen Sarjana Fisioterapi 99 dan berpraktik di Klinik
Dolphin, Helen mengenal Klinik Dolphin yang berada di Balai Samudera Taman
Impian Jaya Ancol (TIJA), Jakarta Utara. Helen menambah terapi bagi Arief,
yakni bermain bersama lumba-lumba di Gelanggang Samudera (GSA) TIJA, tanpa
meninggalkan terapi-terapi sebelumnya.
“Saya sudah mengajak Arief
terapi dengan lumba-lumba ini sebanyak 23 kali. Semula tiap hari sekali selama
sepuluh hari berturut-turut, kini seminggu dua kali. Hasilnya seperti yang Anda
lihat, Arief sudah mampu berinteraksi dengan pelatih lumba-lumba, terapis, dan
orang lain. Ia juga sudah bisa berkonsentrasi penuh,” tutur Helen.
Gangguan PerkembanganAutisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks, disebabkan adanya kerusakan pada otak. Anak mengalami gangguan seputar perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan bersosialisasi, dan lain-lain.
Anak dengan gangguan autis
dikenal sebagai pribadi yang tak mampu berkomunikasi dengan orang terdekat
sekalipun. Anak autis juga tak mampu mengekspresikan perasaan dan keinginannya,
seringkali tertawa atau menangis sendiri.
Meski secara fisik tak bercela,
ciri yang menonjol pada anak autis adalah sulit berbicara. Hingga kini,
gangguan ini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Meski demikian,
serangkaian terapi telah banyak dilakukan orang, misalnya metode ABA (applied
behavioral analysis), hidrotermal, hidromekanik, dan hidrokemis.
Metode yang kini sedang tren
adalah terapi lumba-lumba (dolphin therapy). Menurut Endang, lumba-lumba adalah
makhluk ajaib. Hewan ini sudah dikenal manusia selama berabad-abad
lamanya.Bangsa Yunani Kuno misalnya, menamakannya sebagai konstelasi bintang,
delphinus, atau lumba-lumba. Bangsa Romawi kuno mempercayainya sebagai simbol
cinta sejati, persahabatan, dan harmoni.
Dr. Ken Marten, ilmuwan di
Earthtrust, Hawaii, Amerika Serikat, mengatakan bahwa lumba-lumba mampu
berenang dengan kecepatan lebih dari 40 km per jam. Hewan ini mampu mengirimkan
serangkaian sinyal ultrasonik untuk mendeteksi keberadaan benda di sekitarnya.
Lumba-lumba juga senang bermain-main. Otaknya yang lebih besar dari simpanse
atau kera, membuatnya tergolong binatang cerdas.
Kegemaran bermain memudahkan
hewan menyusui ini akrab dengan manusia. Cerita seputar hubungan manusia dengan
lumba-lumba juga pernah difilmkan, misalnya dalam Flipper, yang dibintangi Paul
Hogan dan Elijah Wood. Kepandaian lumba-lumba berinteraksi dengan manusia
dimanfaatkan oleh banyak ilmuwan sebagai terapi pengobatan. Stimulasi-stimulasi
yang dilakukan lumba-lumba pada panca indra memungkinkan dicapainya kesembuhan
bagi manusia.
“Suara lumba-lumba membuat
rileks dan perasaan menjadi lebih tenang. Sentuhannya merangsang saraf
sensoris, pendengaran, penglihatan, dan konsentrasi anak. Setelah bermain
dengan lumba-lumba, anak menjadi lebih konsentrasi, sehingga memacu semangat
belajar. Klinik Dolphin TIJA saat ini mengkhususkan terapi untuk anak dengan
kebutuhan khusus,” ujar Endang, yang juga fisioterapis di RS Islam Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar