Pages

Minggu, 21 Oktober 2012

terapi lumba lumba


GARIS BESAR
TERAPI LUMBA-LUMBA UNTUK ANAK AUTIS
Autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks, disebabkan adanya kerusakan pada otak.Anak mengalami gangguan seputar perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan bersosialisasi, dan lain-lain.Anak dengan gangguan autis dikenal sebagai pribadi yang tak mampu berkomunikasi dengan orang terdekat sekalipun. Anak autis juga tak mampu mengekspresikan perasaan dan keinginannya, seringkali tertawa atau menangis sendiri.
Terapi lumba-lumba dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Dolphin Assisted Therapy (DAT) yaitu satu di antara terapi yang menggunakan bantuan hewan,memberikan efek perbaikan terhadap pikiran dan  fungsi tubuh, serta kualitas hidup. Lumba-lumba memiliki sebuah sistem yang digunakan untuk berkomunikasi dan menerima  rangsang yang dinamakan sistem sonar. Sonar inilah yang disebut-sebut memiliki kemampuan penyembuhan untuk anak penderita autis, meningkatkan kemampuan wicara dan motorik anak.
Pancaran ini sangat potensial dalam proses penyembuhan. Secara fisiologik, ultrasonik ini dapat mempengaruhi denyut jantung, pernafasan, kontraksi otot, memori dan fungsi pertahanan tubuh.
Proses terapinya dengan cara anak berinteraksi langsung didalam kolam renang. Dengan dibantu instruktur lumba-lumba, anak akan diajak untuk berinteraksi, menyentuh, memberi makan, dan bermain-main dengan hewan pintar ini. Banyak anak-anak yang terlihat senang bermain dan berinteraksi dengan mereka.
Para ilmuwan juga telah menemukan beberapa hipotesis bahwa menyatu dan bermain dengan lumba-lumba akan membangkitkan respon emosional yang mendalam dan memicu pelepasan perasaan dan emosi yang mendalam. para peneliti meyakini, anak-anak lebih responsif terhadap terapi karena mereka bermain di lingkungan yang menyenangkan.
Dari sisi lain, proses pemulihan sama dengan terapi suara yang  di haslkan lumba-lumba. Ritme dan suara vibrasi membantu membangkitkan perubahan mood.




TELAAH KRITIS
v  Menurut sumber lain
Di tubuh lumba-lumba terkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik pendeerita autis. karena, lumba-lumba mempunyai gelombang sonar yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri. “Suara lumba-lumba membuat rileks dan perasaan menjadi lebih tenang. Sentuhannya merangsang saraf sensoris, pendengaran, penglihatan, dan konsentrasi anak. Setelah bermain dengan lumba-lumba, anak menjadi lebih konsentrasi, sehingga memacu semangat belajar.
v  Menurut pendapat saya:
Menurut saya terapi lumba-lumba  bagi anak autis sangatlah penting. Karena dengan terapi lumba-lumba tersebut, anak akan mampu berinteraksi dan mengkoreksi kelainan dan keterbatasan anak berkebutuhan tersebut. Yang biasanya anak autis memiliki rentang perhatian hanya 5 menit atau kurang bisa menjadi stu jam.Berenang dan bersahabat dengan lumba-lumba dapat mengurangi depresi.
Dan dengan adanya terapi lumba-lumba ini, anak autis  dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. kemampuan untuk berinteraksi dan meluapka keinginanya.Bahkan kemampuan merekapun dapat dikembangkan menjadi suatu prestasi yang dapat membanggakan.
Yang biasanya anak autis memiliki rentang perhatian hanya 5 menit atau kurang bisa menjadi stu jam.Berenang dan bersahabat dengan lumba-lumba dapat mengurangi depresi.
v  Menurut fakta lapangan
Sebuah penelitian menyebutkan berenang dengan lumba-lumba bisa membantu meredakan depresi. Tim peneliti dari Universitas Leicester meneliti sekitar 15 orang penderita depresi yang dibagi dalam dua kelompok. Grup pertama berenang bersama lumba-lumba sementara yang lain berenang di area yang sama tanpa ditemani lumba-lumba dalam waktu tertentu secara rutin. Kepala penelitian Dr Iain Ryrie mengatakan para peserta diminta untuk berhenti mengkonsumsi obat anti depresi dan menjalani terapi psikoterapi sekitar empat minggu sebelum menjalani tes ini. Mereka menemukan gejala-gejala dan keluhan yang selama ini dialami para depresan (penderita depresi) mengalami kemajuan pesat dibanding pasien lain yang tidak berenang bersama lumba-lumba.
Penelitian yang tercantum dalam British Medical Journal ini menyebutkan bahwa berdekatan dengan binatang terutama mamalia memiliki kemampuan mengubah lingkungan sosial kita. Separuh dari peserta diminta berenang dan menyelam bersama lumba-lumba selama satu jam setiap hari selama periode dua minggu, sementara peserta lain diminta melakukan aktivitas yang sama tanpa ditemani lumba-lumba. Setelah dua minggu berselang, grup yang berenang dengan lumba-lumba mengalami perbaikan mental.
\

Menurut Dr Michael T. Hyson, pakar terapi lumba-lumba dan autisme, 1973 adalah awal dari lahirnya terapi ini, ketika sekelompok anak-anak autis dibawa ke Seaquarium Miami untuk bertemu lumba-lumba. Anak-anak autis yang biasanya memiliki rentang perhatian hanya lima menit atau kurang, bisa bermain dan mengembangkan ikatan dengan lumba-lumba selama lebih dari satu jam. Hasil yang menggembirakan  ini menjadi awal lumba-lumba untuk program terapi dan penelitian di Florida

SIMPULAN
1.      Bahwa menyatu dan bermain dengan lumba-lumba akan membangkitkan respon emosional yang mendalam dan memicu pelepasan perasaan dan emosi yang mendalam
2.      fungsi motorik halus dan kasar anak-anak, proses belajar, kemampuan kognitif, konsentrasi dan komunikasi, serta kemampuannya untuk berinteraksi dengan orang lain menjadi lebih baik.
3.      lumba-lumba dinyatakan bisa merasakan area yang tidak berfungsi penuh dan trauma fisik di tubuh manusia dan mereka memotivasi anak-anak untuk menggunakan area-area ini
4.      Sistem sonar yang di miliki oleh lumba lumba mampu menyembuhkan anak autis untuk
       meningkatkan wicara dan motorik anak.
5.      Anak yang biasanya hanya memiliki rentang perhatian lima menit atau kurang sekarang dia mampu memperhatikan kira-kira satu jam











DAFTAR PUSTAKA






















LAMPIRAN
Sebuah penelitian menyebutkan berenang dengan lumba-lumba bisa membantu meredakan depresi. Tim peneliti dari Universitas Leicester meneliti sekitar 15 orang penderita depresi yang dibagi dalam dua kelompok. Grup pertama berenang bersama lumba-lumba sementara yang lain berenang di area yang sama tanpa ditemani lumba-lumba dalam waktu tertentu secara rutin. Kepala penelitian Dr Iain Ryrie mengatakan para peserta diminta untuk berhenti mengkonsumsi obat anti depresi dan menjalani terapi psikoterapi sekitar empat minggu sebelum menjalani tes ini. Mereka menemukan gejala-gejala dan keluhan yang selama ini dialami para depresan (penderita depresi) mengalami kemajuan pesat dibanding pasien lain yang tidak berenang bersama lumba-lumba.
Penelitian yang tercantum dalam British Medical Journal ini menyebutkan bahwa berdekatan dengan binatang terutama mamalia memiliki kemampuan mengubah lingkungan sosial kita. Separuh dari peserta diminta berenang dan menyelam bersama lumba-lumba selama satu jam setiap hari selama periode dua minggu, sementara peserta lain diminta melakukan aktivitas yang sama tanpa ditemani lumba-lumba. Setelah dua minggu berselang, grup yang berenang dengan lumba-lumba mengalami perbaikan mental.
Professor Michael Reveley, salah seorang periset, menyebutkan bahwa nilai estetis dan emosi yang terjadi saat peserta (pasien depresi) berinteraksi dengan lumba-lumba berperan sebagai salah satu pereda depresi. Suara ultrasound yang merupakan bagian dari echolocation system (sistem syaraf sensor yang dimiliki mamalia tertentu, misalnya lumba-lumba dan kelelawar untuk mengenali objek disekitar mereka) memiliki efek yang cukup besar pada penderita depresi.
Dari penelitian yang mereka lakukan di Honduras, tim Leicester yakin bahwa menggunakan hewan tertentu dengan cara ini sangat efektif meredakan dan mengobati depresi ataupun gangguan psychiatrik lainnya. "Lumba-lumba adalah mamalia yang cerdas, memiliki kecakapan berinteraksi yang lebih kompleks dibanding mamalia lainnya, bahkan untuk berinteraksi dengan manusia. Beberapa orang yang mengalami depresi sulit berinteraksi dengan sesama dan sulit sekali merespon positif lingkungannya. Namun perlu diingat kita adalah bagian dari alam, bergaul dengan mahkluk lain memberi efek positif bagi kita." Ujar Reveley
Sebelumnya terapi lumba-lumba pernah digunakan untuk membantu anak-anak yang mengalami gangguan tertentu. Dr Iain Ryrie, kepala Mental Health Foundation, mengatakan manusia dan lumba-lumba saling berbagi sistem limbic otak yang memegang peranan penting mengatur proses emosi dan psikologis tubuh. "Kontak emosi adalah kebutuhan biologis yang dibutuhkan mamalia, merangsang sistem limbic mereka, meyakinkan respon positif untuk menyusui serta memberikan perlakukan yang lembut. Sebagai manusia kita memiliki hubungan psikologis untuk berhubungan dan bersentuhan dengan sesama, sesuatu yang membedakan kita dari reptil, yang tidak memiliki sistem komunikasi limbic dan tak bisa menyusui. Jadi sangat mungkin manusia 'bercinta' dengan berbagai jenis mamalia yang berbeda karena mereka memiliki kesamaan sistem biologis dan sosial," kata Dr Iain Ryrie.
Dr Ryrie menyebutkan dari penelitian yang telah dilakukan selama ini menunjukkan bahwa merawat binantang peliharaan merupakan salah satu cara meredakan depresi. Teknik ini juga manjur untuk mengatasi bocah yang hiperaktif dan oramg usia lanjut yang menderita dementia (gangguan pada sistem syaraf, yang menyebabkan kelambanan merespon dan berkonsentrasi, biasanya disertai dengan gangguan emosi dan perubahan karakter).
"Binatang, terutama mamalia, bisa merubah lingkup sosial dinamis kita terutama untuk orang-orang yang mengalami depresi. Berenang dan bersahabat dengan lumba-lumba dalam aktivitas kelompok sangat bisa mengurangi depresi," tambah Ryrie yang masih akan mengembangkan penelitian ini untuk mamalia yang bisa dipelihara di rumah.
Di Jakarta, tepatnya di The Lost Kingdom (dulu Gelanggang Samudra Ancol) di ruang Dolphin Terapi, lumba-lumba dijadikan terapi untuk membantu penyembuhan penderita autis. Menurut GM Doplhin Terapi Klinik, dr. Endang Sumaryati, terapi lumba-lumba merupakan salah satu penyembuhan autis.Metode tersebut empat kali lebih cepat ketimbang dengan terapi konvensional. "Di tubuh lumba-lumba terkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik pendeerita autis. Sebab, lumba-lumba mempunyai gelombang sonar yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri," ujar dr. Endang yang spesialis fisioterapi ini.
Di samping itu, lanjutnya, dapat juga meningkatkan neurotransmitter. Dengan sifat dasar yang memiliki kasih sayang dan suka menolong itu. Menurut Endang, lumba-lumba sangat membantu dalam proses terapi. "Pasien akan tertarik dan lebih rileks untuk berinteraksi sehingga mempengaruhi peningkatan respon kognitif, fisik dan afektif."
Lumba-lumba adalah salah satu hewan yang memiliki kecerdasan tinggi dan sangat bersahabat dengan manusia. Kecerdasan ini ditandai dengan kemapuan mereka untuk mengenali diri mereka sendiri dalam cermin, sadar penuh dan memiliki bahasa yang kompleks dibandingkan dengan hewan lain. Dipercaya bahwa lumba-lumba memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai macam masalah neurologis seperti depresi, sindrom down, autis dan berbagai masalah psikologis lainnya.
Terapi dengan menggunakan hewan peliharaan pada anak autis dapat menurunkan tekanan darah, meringankan insomnia, dan sakit kepala. Saat ini terapi lumba-lumba untuk anak autis dapat di temukan di Bali dan pulau Bidadari. Lumba-lumba yang digunakan dalam terapi ini adalah lumba-lumba yang sudah jinak dan terlatih serta bisa bermain dan berinteraksi dengan anak.
Mamalia laut ini memiliki kemapuan sonar, yakni mendeteksi benda-benda disekitarnya dengan mengirimkan suara berfrekuansi tinggi melalui moncongnya kemudian diterima kembali dan diterjemahkan untuk mengenali lingkungan sekitar, mirip radar. Selain sebagai radar, suara berfrekwensi tinggi ini juga digunakan untuk berkomunikasi dengan lumba-lumba lainnya. Sonar inilah yang disebut-sebut memiliki kemampuan penyembuhan untuk anak penderita autis, meningkatkan kemampuan wicara dan motorik anak.
Proses terapinya dengan cara anak berinteraksi langsung didalam kolam renang. Dengan dibantu instruktur lumba-lumba, anak akan diajak untuk berinteraksi, menyentuh, memberi makan, dan bermain-main dengan hewan pintar ini. Banyak anak-anak yang terlihat senang bermain dan berinteraksi dengan mereka.
Menurut Dr Michael T. Hyson, pakar terapi lumba-lumba dan autisme, 1973 adalah awal dari lahirnya terapi ini, ketika sekelompok anak-anak autis dibawa ke Seaquarium Miami untuk bertemu lumba-lumba. Anak-anak autis yang biasanya memiliki rentang perhatian hanya lima menit atau kurang, bisa bermain dan mengembangkan ikatan dengan lumba-lumba selama lebih dari satu jam. Hasil yang menggembirakan  ini menjadi awal lumba-lumba untuk program terapi dan penelitian di Florida.
Meskipun terapi ini populer dan semakin banyak dilakukan oleh para orang tua tetapi masih belum ada bukti klinis yang menyatakan bahwa terapi ini dapat meringankan gejala autis, tetapi terapi lumba-lumba untuk anak autis ini masih memberikan manfaat kesehatan sebagai “terapi hewan peliharaan” yang menurunkan tekanan darah, meringankan insomnia, dan sakit kepala seperti disebutkan diatas.
 Perkembangan otak
Area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan mood, berkaitan dengan autisme. Ketidakseimbangan neurotransmiter, seperti dopamin dan serotonin, di otak juga dihubungkan dengan autisme.
Lumba-lumba memiliki sebuah sistem yang digunakan untuk berkomunikasi dan menerima rangsang yang dinamakan sistem sonar, sistem ini dapat menghindari benda-benda yang ada di depan lumba-lumba, sehingga terhindar dari benturan. Teknologi ini kemudian diterapkan dalam pembuatan radar kapal selam. Lumba-lumba adalah binatang menyusui. Mereka hidup di laut dan sungai di seluruh dunia. Lumba-lumba adalah kerebat paus dan pesut. Ada lebih dari 40 jenis lumba-lumba.Ultrasonik adalah suara atau getaran dengan frekuensi yang terlalu tinggi untuk bisa didengar oleh telinga manusia, yaitu kira-kira di atas 20 kiloHertz. Hanya beberapa hewan, seperti lumba-lumba menggunakannya untuk komunikasi, sedangkan kelelawar menggunakan gelombang ultrasonik untuk navigasi. Dalam hal ini, gelombang ultrasonik merupakan gelombang ultra (di atas) frekuensi gelombang suara (sonik).Gelombang ultrasonik dapat merambat dalam medium padat, cair dan gas. Reflektivitas dari gelombang ultrasonik ini di permukaan cairan hampir sama dengan permukaan padat, tapi pada tekstil dan busa, maka jenis gelombang ini akan diserap.
Terapi lumba-lumba dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Dolphin Assisted Therapy (DAT) yaitu satu di antara terapi yang menggunakan bantuan hewan, dan dilaporkan memberikan efek perbaikan terhadap pikiran dan  fungsi tubuh, serta kualitas hidup. Terapi ini bukan untuk menyembuhkan penyakit dan bukanlah satu cara yang memberikan suatu keajaiban, tetapi dapat menjadi alternatif cara atau variasi yang bisa diperkenalkan kepada anak penyandang autis. Dengan cara ini kita dapat memberikan pengalaman baru yang cukup menenangkan dan menyenangkan.
Menurut laporan terakhir dari NPO Aspe Elde di Jepang, terapi lumba-lumba mempunyai pengaruh yang sangat baik terhadap anak penyandang autis. Tidak hanya berdasarkan laporan di atas, tetapi ternyata laporan dari berbagai negara di dunia juga memberikan dampak positif yang sama terhadap anak penyandang autis. Sebagi contoh, hasil pengamatan Carla Henco dan Tsuzuki Keiko di Australia (2006) yang saat ini keduanya merupakan terapis dengan bantuan lumba-lumba di negaranya dan satu tempat di Lovina Bali. Mereka menyaksikan sendiri bahwa fungsi motorik halus dan kasar anak-anak, proses belajar, kemampuan kognitif, konsentrasi dan komunikasi, serta kemampuannya untuk berinteraksi dengan orang lain menjadi lebih baik. Dalam empat tahun terakhir, mereka juga menerapkan terapi lumba-lumba ini untuk orang dewasa yang menderita depresi, fobia, gangguan tidur, stroke, dan lain-lainya. Hasilnya juga bagus, penderita menjadi lebih relaks, tidak takut dan lebih seimbang.
Secara ringkas menurut para ahli dikatakan bahawa lumba-lumba menggunakan sistem sonar yang sangat sofistikated yang dipancarkan dalam bentuk vibrasi. Para ahli berkeyakinan bahwa lumba-lumba dapat melihat keadaan dalam tubuh kita mirip seperti penampilan sonogram pada wanita hamil. Pancaran ultrasonik yang dikeluarkan empat kali lebih kuat efeknya daripada terapi yang digunakan di berbagai rumah sakit. Pancaran ini sangat potensial dalam proses penyembuhan. Secara fisiologik, ultrasonik ini dapat mempengaruhi denyut jantung, pernafasan, kontraksi otot, memori dan fungsi pertahanan tubuh.
Suara
            Dari sisi lain, proses pemulihan sama dengan terapi suara. Ritme dan suara vibrasi membantu membangkitkan perubahan mood. Menurut Dr Cole, ketua  Aquathought Foundation, berenang dengan lumba-lumba bisa menciptakan perubahan sel-sel psikologi dan jaringan dalam tubuh.
            Lumba-lumba, terang Cole, mempunyai sonar alami. Mereka akan memancarkan gelombang ultrasound untuk menentukan lokasi benda dan untuk berkomunikasi. Bunyi yang dikeluarkan lumba-lumba, terang dia lagi, sangat kuat sehingga bisa menyebabkan pembentukan lubang di struktur molekul-molekul cairan dan jaringan lunak.

            Cole meyakini bahwa frekuensi sinyal lumba-lumba berpengaruh kuat terhadap otak manusia dengan cara memodifikasi aktivitas gelombang otak. Hasil tes yang dilakukan pada manusia menunjukkan kalau bunyi ini bisa mengubah frekuensi otak manusia dari beta menjadi alpha.

            Bunyi ini membuat kedua belahan otak lebih sinkron sehingga komunikasi antara otak kanan dan kiri menjadi jauh lebih baik. Selain itu, terapi lumba-lumba ini juga dinyatakan bisa membuat perubahan emosi yang kuat, menenangkan anak-anak, meningkatkan kemampuan komunikasi dan konsentrasi, memperbaiki fungsi motorik dan koordinasi, membuat kontak mata, senyum, tawa, dan daya sentuh anak semakin baik, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh. (OL-08)
Demikianlah sekelumit uraian tentang kegiatan terapi lumba-lumba yang pernah kami lakukan sebagai satu di antara berbagai cara demi memaksimalkan potensi anak penyandang autis agar mampu menolong dirinya sendiri di masa datang (Disusun oleh Upik Kesumawati Hadi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB).Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas sensori anak. Dalam program yang berlangsung di kolam renang dengan lumba-lumba ini, terapis akan membantu anak-anak autisme. Anak-anak akan diminta untuk berenang, menyentuh, memberi makan atau mengelus-elus hewan tersebut. Selanjutnya terapis akan bekerja dan membantu pada area tertentu seperti berbicara, bertingkah dan keahlian motorik. Terapis akan mendisain program sesuai dengan kebutuhan anak.
TIGA TAHUN lalu, Helen (28) sedih mendapati M. Arief Sofyan, anaknya yang ketika itu berusia 2 tahun, selalu tidak merespon bila dipanggil. Arief selalu menyendiri, tidak mau berbicara, padahal di rumah tidak mau diam alias hiperaktif.
Dari analisis pengobatan medis, diketahui Arief menyandang gangguan autisme. Helen tentu harus memberikan perhatian khusus pada buah hatinya itu. Ibu tiga anak ini memasukkan Arief di sekolah untuk anak dengan kebutuhan khusus, memberikan asupan yang tepat, juga menghadiri berbagai seminar tentang autisme guna menambah pengetahuan dalam mendidik Arief.
Beruntung, lewat Endang Sumaryati, dari Kompartemen Sarjana Fisioterapi 99 dan berpraktik di Klinik Dolphin, Helen mengenal Klinik Dolphin yang berada di Balai Samudera Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Jakarta Utara. Helen menambah terapi bagi Arief, yakni bermain bersama lumba-lumba di Gelanggang Samudera (GSA) TIJA, tanpa meninggalkan terapi-terapi sebelumnya.
“Saya sudah mengajak Arief terapi dengan lumba-lumba ini sebanyak 23 kali. Semula tiap hari sekali selama sepuluh hari berturut-turut, kini seminggu dua kali. Hasilnya seperti yang Anda lihat, Arief sudah mampu berinteraksi dengan pelatih lumba-lumba, terapis, dan orang lain. Ia juga sudah bisa berkonsentrasi penuh,” tutur Helen.
Gangguan Perkembangan
            Autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks, disebabkan adanya kerusakan pada otak. Anak mengalami gangguan seputar perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan bersosialisasi, dan lain-lain.
Anak dengan gangguan autis dikenal sebagai pribadi yang tak mampu berkomunikasi dengan orang terdekat sekalipun. Anak autis juga tak mampu mengekspresikan perasaan dan keinginannya, seringkali tertawa atau menangis sendiri.
Meski secara fisik tak bercela, ciri yang menonjol pada anak autis adalah sulit berbicara. Hingga kini, gangguan ini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Meski demikian, serangkaian terapi telah banyak dilakukan orang, misalnya metode ABA (applied behavioral analysis), hidrotermal, hidromekanik, dan hidrokemis.
Metode yang kini sedang tren adalah terapi lumba-lumba (dolphin therapy). Menurut Endang, lumba-lumba adalah makhluk ajaib. Hewan ini sudah dikenal manusia selama berabad-abad lamanya.Bangsa Yunani Kuno misalnya, menamakannya sebagai konstelasi bintang, delphinus, atau lumba-lumba. Bangsa Romawi kuno mempercayainya sebagai simbol cinta sejati, persahabatan, dan harmoni.
Dr. Ken Marten, ilmuwan di Earthtrust, Hawaii, Amerika Serikat, mengatakan bahwa lumba-lumba mampu berenang dengan kecepatan lebih dari 40 km per jam. Hewan ini mampu mengirimkan serangkaian sinyal ultrasonik untuk mendeteksi keberadaan benda di sekitarnya. Lumba-lumba juga senang bermain-main. Otaknya yang lebih besar dari simpanse atau kera, membuatnya tergolong binatang cerdas.
Kegemaran bermain memudahkan hewan menyusui ini akrab dengan manusia. Cerita seputar hubungan manusia dengan lumba-lumba juga pernah difilmkan, misalnya dalam Flipper, yang dibintangi Paul Hogan dan Elijah Wood.  Kepandaian lumba-lumba berinteraksi dengan manusia dimanfaatkan oleh banyak ilmuwan sebagai terapi pengobatan. Stimulasi-stimulasi yang dilakukan lumba-lumba pada panca indra memungkinkan dicapainya kesembuhan bagi manusia.
“Suara lumba-lumba membuat rileks dan perasaan menjadi lebih tenang. Sentuhannya merangsang saraf sensoris, pendengaran, penglihatan, dan konsentrasi anak. Setelah bermain dengan lumba-lumba, anak menjadi lebih konsentrasi, sehingga memacu semangat belajar. Klinik Dolphin TIJA saat ini mengkhususkan terapi untuk anak dengan kebutuhan khusus,” ujar Endang, yang juga fisioterapis di RS Islam Jakarta.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar